<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[Mustamin al-Mandary - Hikmah]]></title><link><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah]]></link><description><![CDATA[Hikmah]]></description><pubDate>Fri, 04 Jun 2021 15:00:44 -0700</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Semulia-mulia Manusia]]></title><link><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/semulia-mulia-manusia]]></link><comments><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/semulia-mulia-manusia#comments]]></comments><pubDate>Sat, 19 Jul 2014 05:41:18 GMT</pubDate><category><![CDATA[Agama]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/semulia-mulia-manusia</guid><description><![CDATA[   Seorang murid, yang sudah sekian tahun menuntut ilmu tasawwuf, bertanya kepada gurunya, “Guru, anak-anak yang belajar kepada Guru Anu, baru setahun saja, mereka sudah bisa berjalan di atas air. Kami ini bagaimana Guru?” Dengan tenang Sang Guru menjawab, “Anakku, jika kamu pikir bahwa kemuliaan ditunjukkan dengan kemampuan berjalan di atas air, maka dari dulu katak bisa berjalan di atas air.”&nbsp;         Beberapa hari setelah itu, seorang murid bertanya lagi, “Guru, anak-anak yang  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<span class='imgPusher' style='float:left;height:0px'></span><span style='z-index:10;position:relative;float:left;max-width:100%;;clear:left;margin-top:0px;*margin-top:0px'><a><img src="https://www.mustamin-almandary.net/uploads/3/1/3/2/31324883/639769279.jpg" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; border-width:1px;padding:3px;" alt="Picture" class="galleryImageBorder wsite-image"></a><span style="display: block; font-size: 90%; margin-top: -10px; margin-bottom: 10px; text-align: center;" class="wsite-caption"></span></span>  <div class="paragraph" style="display:block;"> Seorang murid, yang sudah sekian tahun menuntut ilmu tasawwuf, bertanya kepada gurunya, &ldquo;Guru, anak-anak yang belajar kepada Guru Anu, baru setahun saja, mereka sudah bisa berjalan di atas air. Kami ini bagaimana Guru?&rdquo; Dengan tenang Sang Guru menjawab, &ldquo;Anakku, jika kamu pikir bahwa kemuliaan ditunjukkan dengan kemampuan berjalan di atas air, maka dari dulu katak bisa berjalan di atas air.&rdquo;&nbsp; </div> <hr style="width:100%;clear:both;visibility:hidden;">  <div> <!--BLOG_SUMMARY_END--> </div>  <div class="paragraph" style="text-align:justify;"> Beberapa hari setelah itu, seorang murid bertanya lagi, &ldquo;Guru, anak-anak yang belajar kepada Ustadz Anu baru beberapa bulan saja mereka sudah bisa terbang di angkasa. Lantas kami ini bisa mendapatkan apa Guru?&rdquo; Sang Guru kemudian menjawab, &ldquo;Anakku, jika kamu menganggap bahwa kemuliaan ditunjukkan dengan kesaktian bisa terbang di angkasa, maka dari dulu lalat bisa terbang.&rdquo; Karena tidak puas, sang penanya melanjutkan, &ldquo;Lalu apa perwujudan kemuliaan pada seseorang itu Guru?&rdquo; Sang Guru menjawab, &ldquo;kemuliaan seseorang bukan terletak pada kemampuannya berjalan di atas air, tidak juga terlihat dari kesaktiannya terbang di udara. Jika hanya itu ukurannya, apa bedanya kita dengan katak dan lalat. Sesungguhnya, kemuliaan seseorang terletak pada sejauh mana dia bisa bermanfaat bagi orang lain.&rdquo;<br> <span></span><br> <span></span> Penggalan cerita di atas adalah sebuah kisah nyata dalam sebuah kelompok sufi, ditulis di dalam beberapa kitab. Sang Guru, seorang sufi besar, menekankan kembali puncak kemuliaan manusia. Kita sering menganggap bahwa ciri-ciri kesalehan dan kemuliaan seseorang terlihat dari bekas sujud yang hitam di dahinya, atau dari celananya yang pendek di atas mata kaki, atau karena memakai baju gamis. Kita juga sering juga mengira bahwa kesalehan seseorang bisa diukur dari simbol yang digunakannya: tasbih yang tidak lepas dari tangan, selalu memakai songkok, terlihat banyak melakukan ibadah ritual, bahkan karena kesaktian-kesaktian seseorang yang seorang tukang sihir terlatihpun bisa melakukannya. Bukan itu! Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Hajar al-Asqalani di dalam <em>Nashailul &lsquo;Ibad</em>, Rasulullah Saw menegaskan, &ldquo;<em>Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Amal yang paling utama adalah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman, mengenyangkan orang yang lapar, melepaskan kesulitan (orang lain) dan membayarkan utang (orang-orang yang kesusahan)</em>.&rdquo;<br> <span></span><br> <span></span> Sesungguhnya, kita hanya ingin mengulang-ulang, menekankan, menghidupkan pemahaman, bahwa agama ini adalah agama yang berhikmat kepada ummat manusia. Kemuliaan kita bukanlah ditentukan oleh formalitas ritual agama yang kita anut, apatah lagi jika agama itu hanya warisan dari nenek moyang kita. &ldquo;<em>Tahukah kamu siapa pendusta agama itu? Mereka itu yang menghardik anak yatim, dan tidak memberi makan kepada fakir miskin</em>,&rdquo; demikian firman Allah di dalam surah al-Ma&rsquo;un.<br> <span></span><br> <span></span> Marilah kita menampakkan keberagamaan kita secara nyata seperti tuntunan Rasulullah Saw. Tentu kita tidak bermaksud mengatakan bahwa shalat, puasa, atau ibadah-ibadah lainnya tidak penting. Yang ingin ditekankan adalah, ruh ibadah <em>mahdhah</em> sejatinya menampak di dalam kehidupan sosial kita. Seseorang yang benar-benar beragama adalah dia yang memberikan manfaat bagi sesama. Bahkan, nilai ibadah seseorang bisa dilihat dari kehidupan sosialnya.<br> <br> Kepada Rasulullah Saw pernah diceritakan tentang seorang perempuan yang rajin salat dan berpuasa. Namun, beliau mengatakan bahwa orang itu akan masuk neraka. Mengapa, karena dia menyakiti tetangganya. Abu Hurairah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, "ya Rasulullah, bagaimana jika ada seseorang rajin melakukan salat malam, lalu di siang harinya ia berpuasa, (tetapi) ia menyakiti tetangganya dengan lisannya? Rasulullah Saw menjawab, "Tiada kebaikan padanya dan ia kelak berada di dalam neraka." (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad).<br> <span></span><br> <span></span>Demikian pula puasa. Karena itu puasa hendaknya memberikan hikmah yang akan meningkatkan kualitas spiritual seseorang, pada saat yang sama juga memberikan hikmah yang nampak di lingkungan sosial. Bahkan, hikmah sosial itu bukan hanya harus nampak di dalam pergaulan bermasyarakat, tetapi juga ditarik sebagai bagian dari munajat seseorang. Itulah isi dari salah satu doa yang diajarkan Rasulullah Saw untuk dibaca setiap selesai shalat fardhu selama bulan Ramadhan, seperti doa ini:<br> <br> <span></span> &ldquo;<em>Ya Allah, anugrahkanlah kebahagiaan kepada semua penghuni kubur; Ya Allah, cukupkanlah setiap yang fakir; Ya Allah, kenyangkanlah setiap orang yang lapar; Ya Allah, tunaikanlah utang setiap orang yang berutang; Ya Allah, lapangkanlah setiap orang yang kesempitan; Ya Allah, lepaskanlah setiap orang yang terbelenggu; Ya Allah, perbaikilah setiap orang yang berbuat kerusakan atas urusan kaum muslimin; Ya Allah, sembuhkanlah orang-orang yang sedang sakit; Ya Allah, gantikanlah kepapaan kami dengan kecukupan; Ya Allah, ubahlah keadaan kami yang buruk dengan keadaan yang baik; Ya Allah, tunaikanlah utang-utang kami dan cukupkanlah kami dari kemiskinan; Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.</em>&rdquo;<br> <br> <span></span> 20 Ramadhan 1428H<br> <span></span><br> <span></span> </div>  <div> <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> <hr class="styled-hr" style="width:100%;">  <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> </div>  <div> <div id="491851056516029718" align="left" style="width: 100%; overflow-y: hidden;" class="wcustomhtml"> <div align='center'> <a href='http://www.hit-counter-html-code.com'><img src='http://www.hit-counter-html-code.com/c.php?d=6&amp;id=141343&amp;s=10' border='0' title='free website hit counter'></a><br> <small><a href='http://www.hit-counter-html-code.com' title="hit counter html code">Hit Counter</a></small> </div> </div> </div> ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Menjemput Laylatul Qadr]]></title><link><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/menjemput-laylatul-qadr]]></link><comments><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/menjemput-laylatul-qadr#comments]]></comments><pubDate>Wed, 16 Jul 2014 06:03:14 GMT</pubDate><category><![CDATA[Puasa]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/menjemput-laylatul-qadr</guid><description><![CDATA[   Di bulan puasa, ada malam yang dikenal sebagai laylatul qadr. Jatuhnya di malam ke berapa, ada banyak pendapat para ulama. Malam tersebut adalah malam kemuliaan. Seperti yang difirmankan oleh Allah, “Sesungguhnya kami menurunkan (Alquran) pada malam&nbsp;laylatul qadr.&nbsp;Dan tahukah kamu malam&nbsp;laylatul qadr&nbsp;itu?&nbsp;Laylatul qadr&nbsp;itu lebih baik daripada seribu bulan.”         Surah al-Qadr yang membicarakan malam kemuliaan ini diturunkan untuk menghibur Rasulullah Saw.  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<span class='imgPusher' style='float:left;height:0px'></span><span style='z-index:10;position:relative;float:left;max-width:100%;;clear:left;margin-top:0px;*margin-top:0px'><a><img src="https://www.mustamin-almandary.net/uploads/3/1/3/2/31324883/193340719.jpg?250" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; border-width:1px;padding:3px;" alt="Picture" class="galleryImageBorder wsite-image"></a><span style="display: block; font-size: 90%; margin-top: -10px; margin-bottom: 10px; text-align: center;" class="wsite-caption"></span></span>  <div class="paragraph" style="display:block;"> Di bulan puasa, ada malam yang dikenal sebagai <em>laylatul qadr</em>. Jatuhnya di malam ke berapa, ada banyak pendapat para ulama. Malam tersebut adalah malam kemuliaan. Seperti yang difirmankan oleh Allah, &ldquo;<em>Sesungguhnya kami menurunkan (Alquran) pada malam&nbsp;</em>laylatul qadr.&nbsp;<em>Dan tahukah kamu malam&nbsp;</em>laylatul qadr<em>&nbsp;itu?&nbsp;</em>Laylatul qadr<em>&nbsp;itu lebih baik daripada seribu bulan.</em>&rdquo; </div> <hr style="width:100%;clear:both;visibility:hidden;">  <div> <!--BLOG_SUMMARY_END--> </div>  <div class="paragraph" style="text-align:justify;"> Surah al-Qadr yang membicarakan malam kemuliaan ini diturunkan untuk menghibur Rasulullah Saw. Latar belakang turunnya, atau <em>asbabun nuzul</em> surah ini, diceritakan di dalam beberapa kitab tafsir, misalnya tafsir <em>Durr al Mantsur</em>, tafsir <em>Ruh al-Ma&rsquo;ani</em>, dan lain-lain. Rasulullah Saw diriwayatkan pernah bermimpi bahwa bani Umayyah meloncat-loncat seperti kera lalu mencemari mimbarnya yang suci. Tentu saja Rasulullah Saw sedih. Agama Islam yang telah ditegakkan dengan darah dan airmata serta dengan kemuliaan Alquran dan hadits, akan diselewengkan demi kepentingan politik dan untuk memenuhi selera penguasa bani Umayyah itu. Seperti yang dibuktikan oleh sejarah, kekuasaan bani Umayyah itu akan berlangsung selama 83 tahun, atau sama dengan seribu bulan. Namun demikian, walaupun kekuasaan bani Umayyah itu sedemikian kuatnya menyelewengkan agama Islam, namun ia akan tetap terpelihara dengan terpeliharanya Alquran sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah. Karenanya, turunnya Alquran di malam <em>laylatul qadr</em> itu lebih baik daripada seribu bulan.<br> <span></span><br> <span></span> Kita mengenal beragam tradisi masyarakat untuk mencari &ldquo;bentuk&rdquo; <em>laylatul qadr.</em> Mereka menganggap bahwa <em>laylatul qadr</em> adalah malaikat yang turun dari langit yang membagikan sesuatu pada malam-malam ganjil di pengakhiran ramadhan. Mereka mengharapkan kesaktian, atau limpahan &ldquo;rezeki&rdquo; luar biasa setelah bertemu dengannya. Tetapi apakah sebenarnya kemuliaan malam itu?<br> <span></span><br> <span></span> Selain yang bisa dimengerti dari sebab turunnya surah al-Qadr, kemuliaan malam itu adalah karena di dalamnya diturunkan Alquran. Demikian yang dijelaskan oleh Allah Swt di Surah al-Qadar. Jadi kemuliaannya karena berkelindan dengan kemuliaan Alquran. Pesan utamanya, carilah kemuliaan dengan mempelajari dan mengikuti Alquran.<br> <br> Selain itu, kemuliaan malam <em>laylatul qadr</em>&nbsp;adalah karena apa yang kita lakukan di dalamnya. Kemuliaan malam tak ada artinya jika kita tidak memaknainya. Kita bisa mendapatkan kemuliaan itu hanya jika kita mengisi malam <em>laylatul qadr</em> dengan amalan-amalan mulia. Kita menjemput kemuliaan, bukan diberi kemuliaan. Malam itu harus diisi, bukan menunggu isian seperti mengharap hujan yang diturunkan dari langit. Malam <em>laylatul qadr</em> bukanlah malam dimana dibagikan-bagikan hadiah khusus bagi orang-orang tertentu, tetapi malam itu adalah malam kemuliaan bagi siapa saja yang ingin mengambil kemuliaannya.<br> <span></span><br> <span></span> Di dalam pandangan&nbsp; sebagian kelompok umat Islam, malam <em>laylatul qadr</em> jatuh pada malam 19, 21, dan 23 ramadhan dimana malam 23 lebih mulia daripada malam 21 dan malam 21 lebih mulia daripada malam 19. Dalam pandangan sebagian besar penganut tarikat Qadiriah di Mandar, malam <em>laylatul qadr</em> jatuh pada malam 27 Ramadhan, itulah sebabnya mereka berkumpul pada malam itu untuk melaksanakan semua shalat sunnah yang bisa dilakukan di waktu malam.<br> <span></span><br> <span></span> Di dalam berbagai kitab-kitab amalan, beberapa hal yang dianjurkan dilakukan pada malam <em>laylatul qadr</em> agar kita bisa mengambil kemuliaan lebih dari seribu bulan itu adalah sebagai berikut:<br> <span></span><br>  <ol> <li><span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">Mandi di awal malam tanggal 19, 21, dan 23</span></li>  <li><span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">Bertawassul dengan Alquran. Bukalah Alquran, letakkan pada tangan Anda, lalu ucapkanlah doa berikut. &ldquo;</span><em style="line-height: 1.5; background-color: initial;">Ya Allah, aku bermohon kepadaMu dengan bertawassul kepada kitabMu yang diturunkan dan pada apa-apa yang diturunkan di dalamnya. Di dalamnya ada asmaMu yang agung dan Asmaul Husna, dan apa yang ditakutkan dan apa yang diharapkan. Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Dan jadikanlah aku di antara orang yang Engkau bebaskan dari api neraka</em><span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">.&rdquo;</span></li>  <li><span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">Shalat sunnah 100 rakaat</span></li>  <li><span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">Shalat dua rakaat. Di setiap rakaat membaca Alfatihah dan surah al-Ikhlas 7X dan setelah salam ucapkan istighfar</span> <em style="line-height: 1.5; background-color: initial;">astaghfirullaha wa atubu ilaihi</em> <span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">sebanyak 70X.</span></li>  <li><span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">Mengusahakan untuk tidak tidur dan menghidupkan malam dengan berbagai ibadah.</span></li>  <li><span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">Membaca surah Al-Qadr 1000X</span></li>  <li><span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">Panjatkanlah doa-doa yang lain.</span></li> </ol><span></span><br> <span></span> Karena itu, carilah <em>laylatul qadr</em> di kesunyian malam, dengan munajat dan ibadah; bukan dengan gemuruh doa di keramaian, bukan dengan bertapa dan bersepi-sepi. Carilah kemuliaannya dengan salat dan membaca Alquran. Cari pula <em>laylatul qadr</em> di tengah orang-orang miskin, bahagiakan mereka dengan sedekah dan pertolongan, beri mereka pakaian dan makanan. Dengan cara itu, kita akan mendapatkan kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan.&nbsp;<br> <br> Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk mencerap kemuliaan malam seribu bulan ini. Dan kita mulai&nbsp;di malam ke sembilan belas Ramadhan malam ini.<br> <span></span><br> <span></span>*) Ditulis 18 Ramadhan 1428 untuk mailing list Panyingkul.<br> <span></span> </div>  <div> <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> <hr class="styled-hr" style="width:100%;">  <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> </div>  <div> <div id="598712392567765451" align="left" style="width: 100%; overflow-y: hidden;" class="wcustomhtml"> <div align='center'> <a href='http://www.hit-counter-html-code.com'><img src='http://www.hit-counter-html-code.com/c.php?d=6&amp;id=141132&amp;s=10' border='0' title='free website hit counter'></a><br> <small><a href='http://www.hit-counter-html-code.com' title="hit counter html code">Hit Counter</a></small> </div> </div> </div> ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Puasa Bicara]]></title><link><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/puasa-bicara]]></link><comments><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/puasa-bicara#comments]]></comments><pubDate>Sun, 13 Jul 2014 15:20:22 GMT</pubDate><category><![CDATA[Puasa]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/puasa-bicara</guid><description><![CDATA[   Puasa di dalam bahasa Arab disebut&nbsp;al-shiyam. Kata ini memiliki asal-usul dari kata&nbsp;shama, yashumu, shawman&nbsp;dan&nbsp;shiyaman. Pada awalnya,&nbsp;shiyam&nbsp;artinya meninggalkan atau berpantang dari sesuatu. Pada perkembangan selanjutnya, sebagaimana yang didefenisikan di dalam kitab&nbsp;al-Raghib, kata&nbsp;shiyam&nbsp;berarti meninggalkan sesuatu yang berhubungan dengan makanan (tentu saja minuman juga termasuk), pembicaraan, dan perjalanan. Dengan demikian, salah satu makn [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<span class='imgPusher' style='float:left;height:0px'></span><span style='z-index:10;position:relative;float:left;max-width:100%;;clear:left;margin-top:0px;*margin-top:0px'><a><img src="https://www.mustamin-almandary.net/uploads/3/1/3/2/31324883/882330348.jpg" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; border-width:1px;padding:3px;" alt="Picture" class="galleryImageBorder wsite-image"></a><span style="display: block; font-size: 90%; margin-top: -10px; margin-bottom: 10px; text-align: center;" class="wsite-caption"></span></span>  <div class="paragraph" style="display:block;"> Puasa di dalam bahasa Arab disebut&nbsp;<em>al-shiyam</em>. Kata ini memiliki asal-usul dari kata&nbsp;<em>shama, yashumu, shawman&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>shiyaman</em>. Pada awalnya,&nbsp;<em>shiyam</em>&nbsp;artinya meninggalkan atau berpantang dari sesuatu. Pada perkembangan selanjutnya, sebagaimana yang didefenisikan di dalam kitab&nbsp;<em>al-Raghib</em>, kata&nbsp;<em>shiyam&nbsp;</em>berarti meninggalkan sesuatu yang berhubungan dengan makanan (tentu saja minuman juga termasuk), pembicaraan, dan perjalanan. Dengan demikian, salah satu makna puasa adalah meninggalkan pembicaraan. Apakah dalam pengertian ini kita tidak diperbolehkan untuk berbicara ketika kita sedang berpuasa? </div> <hr style="width:100%;clear:both;visibility:hidden;">  <div> <!--BLOG_SUMMARY_END--> </div>  <div class="paragraph" style="text-align:justify;"> Berbicara ketika berpuasa tentu tidak dilarang. Bukankah kita harus berbicara ketika sedang membaca ayat-ayat Allah? Di bulan puasa, kita juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak zikir memuji Allah dan memperbanyak dialog dengan Allah dalam bentuk <em>munajat</em>.&nbsp; Selain itu, saling menasehati dalam kebaikan bukan hanya dianjurkan selama bulan ramadhan, tetapi juga di luar bulan ramadhan.<br> <span></span><br> <span></span> Puasa bicara setidaknya memiliki dua tahapan. Yang pertama adalah menjaga lisan dari mengucapkan kata-kata kotor, menggunjing orang lain, memfitnah, ghibah, dan lain-lain. Puasa tahap pertama ini diringkas oleh pesan Rasulullah Saw, &ldquo;tidak tergolong mukmin orang yang suka melaknat orang lain, suka menyakiti orang lain dan mengucapkan kata-kata kotor.&rdquo; Ketika seorang perempuan tetangganya mencaci maki pembantunya padahal dia sedang berpuasa, Rasulullah Saw menyuruhnya berbuka, &ldquo;Bagaimana mungkin kamu berpuasa sedangkan kamu mencaci maki hamba Allah?&rdquo;<br> <span></span><br> <span></span> Setelah menghindari kata-kata kotor, puasa bicara dilanjutkan dengan menghindari perkataan yang tidak perlu dan tidak membawa manfaat. Pembicaraan yang memberikan manfaat adalah pembicaraan yang mendekatkan kita kepada Allah. Hindarilah perkataan yang biasa-biasa saja, gantilah obrolan dengan zikir dan saling menasehati tentang kebenaran. Perbanyaklah belajar firman Allah dan pesan-pesan Rasulullah Saw. Ketimbang membicarakan hal-hal yang tidak penting, lebih maslahat membaca kitab dan menelaah ilmu agama.<br> <span></span><br> <span></span> Rasulullah Saw pernah berpesan kepada sahabat Abu Dzar. Kata beliau Saw, &ldquo;empat perkara yang tidak akan dilakukan kecuali oleh orang mukmin. (Salah satunya) adalah diam (sedikit berbicara), ia adalah awal ibadah.&rdquo; (Makarim al-Akhlaq, juz 2, hal. 377). Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw pernah mengatakan, &ldquo;diam adalah ciri kecerdasan dan buah dari akal&rdquo; (Ghurar al-Hikam, no. 1343). Beliau juga mengatakan &ldquo;konsistenlah dalam sedikit berbicara, niscaya kalian akan mendapatkan manfaat darinya, minimal adalah keselamatan&rdquo; (Ghurar al-Hikam, no. 2314). Seorang ulama salaf, Bisyr bin Al-Harits ra pernah berkata &ldquo;Dua perkara yang akan mengeraskan hati: Banyak bicara, dan banyak makan&rdquo;. (Lihat Al-Hilyah (4/22) oleh Abu Nu'aim).<br> <span></span><br> <span></span> Puasa bicara mengajarkan untuk menakar pembicaraan dan mendahulukan pembicaraan yang bermanfaat. Kita mungkin terlalu banyak mendengarkan suara mulut sendiri sehingga kita jarang mendengarkan jeritan dari kaum miskin yang menderita di sekitar kita. Sayyid Haydar Amuli mengatakan, jika terlalu sering mendengarkan suara sendiri, kita tidak akan mampu mendengarkan kata-kata dari hati. Sebelum Rasulullah Saw menerima wahyu di gua Hira, beliau menghabiskan waktu yang panjang untuk ber-<em>khalwat</em>, puasa bicara, dan mempertajam hati. Nabi Zakaria as, ketika akan dikaruniai anak di usianya yang sudah sangat tua dan istrinya dalam keadaan mandul, disuruh berpuasa bicara selama tiga hari agar harapannya terkabul. Setelah Maryam melahirkan Isa al-Masih as dan mendapatkan banyak gunjingan, beliau melakukan puasa bicara dan akhirnya Isa as yang masih bayi itulah yang menjawab semua gunjingan orang. Dan demikianlah, puasa bicara telah membawa mujizat dan keajaiban. Seharusnya, kita juga berpuasa bicara di bulan yang mulia ini, juga setelahnya.<br> <br> 8 Ramadhan 1430H<br> <span></span> </div>  <div> <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> <hr class="styled-hr" style="width:100%;">  <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> </div>  <div> <div id="434688666399361281" align="left" style="width: 100%; overflow-y: hidden;" class="wcustomhtml"> <div align='center'> <a href='http://www.hit-counter-html-code.com'><img src='http://www.hit-counter-html-code.com/c.php?d=6&amp;id=140949&amp;s=10' border='0' title='free website hit counter'></a><br> <small><a href='http://www.hit-counter-html-code.com' title="hit counter html code">Hit Counter</a></small> </div> </div> </div> ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Mereguk Hakikat Puasa]]></title><link><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/mereguk-hakikat-puasa]]></link><comments><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/mereguk-hakikat-puasa#comments]]></comments><pubDate>Sun, 06 Jul 2014 06:11:59 GMT</pubDate><category><![CDATA[Puasa]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/mereguk-hakikat-puasa</guid><description><![CDATA[ Para sufi membagi puasa menjadi puasa lahir dan puasa batin. Dalam defenisi yang lebih detail, puasa meliputi tiga tingkatan: puasa syari’at, puasa tarikat, dan puasa hakikat. Puasa yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw dalam berbagai hadits kita sebut puasa syari’at, defenisinya sangat&nbsp;fiqhiyyah, lebih menekankan ke aspek legalitas. Ketika kita mengikuti Rasulullah dalam caranya melakukan puasa: dari sahur, buka puasa, kegiatan ramadhan; maka kita mengikuti puasa tarikat. Dan jika kita  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:justify;"> Para sufi membagi puasa menjadi puasa lahir dan puasa batin. Dalam defenisi yang lebih detail, puasa meliputi tiga tingkatan: puasa syari&rsquo;at, puasa tarikat, dan puasa hakikat. Puasa yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw dalam berbagai hadits kita sebut puasa syari&rsquo;at, defenisinya sangat&nbsp;<em>fiqhiyyah</em>, lebih menekankan ke aspek legalitas. Ketika kita mengikuti Rasulullah dalam caranya melakukan puasa: dari sahur, buka puasa, kegiatan ramadhan; maka kita mengikuti puasa tarikat. Dan jika kita bisa menyingkap rahasia puasa sebagaimana yang disingkapkan kepada Rasulullah, kita sampai kepada puasa hakikat.&nbsp; </div>  <div> <!--BLOG_SUMMARY_END--> </div>  <div class="paragraph" style="text-align:justify;"> Orang yang melakukan puasa syari&rsquo;at akan sangat memperhatikan aspek-aspek lahir yang membatalkan puasa secara hukum. Dia akan sangat hati-hati dalam menetapkan waktu menahan, cemas jika berkumur-kumur di siang hari karena takut menelan air, dan lain-lain. Pendeknya dia berfokus kepada hal-hal yang membatalkan puasa seperti yang dijelaskan di dalam kitab <em>fiqh</em>.&nbsp;<br> <br> Orang yang memperbanyak ibadah di malam hari, membaca Alquran, merutinkan sedekah, dan melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw di bulan ramadhan sesuai riwayat hadits, telah menaikkan derajat pencapaiannya setingkat lebih tinggi. Orang ini tidak hanya terfokus kepada syarat yang mensahkan dan membatalkan puasa secara lahiriah saja, tetapi lebih dari itu dia menggali syarat-syarat batin dan berkomitmen dalam menuntun diri untuk memenuhinya. Dia takut untuk berbuka makanan yang haram, berghibah, memfitnah, mengumpat, menyakiti hati orang lain, menghardik anak yatim, marah, khianat, berbohong, dan meninggalkan semua perbuatan batin yang dilarang oleh agama.&nbsp;<br> <br> Rasulullah Saw menyampaikan sebuah hadis qudsi, bahwa Allah Swt berfirman, "Siapa yang anggota tubuhnya tidak berpuasa dari hal-hal yang Aku haramkan, maka tidak berguna bagiKu dia meninggalkan makan dan minum demi diriKu" (al-Kafi, juz 4 hadis no. 5). Puasa bukan hanya mengikuti syarat-syarat lahirnya saja, tetapi termasuk meninggalkan apa saja yang diharamkan oleh Allah Swt; bukan hanya makanan dan minuman, tetapi juga perbuatan.<br> <span></span><br> <span></span> Dengan menggunakan istilah para sufi, berpuasa mestinya dimulai dari <em>takhalli</em>, mengosongkan diri dari segala noda dan melepaskan diri dari kekangan <em>nafs al-hayawan</em>, kecenderungan hewani. Inilah persiapan yang paling awal. Pada tahap inilah kita harus melakukan semua syarat dan rukun puasa, baik lahir maupun batin. Di tahap ini kita berusaha menemukan inti puasa, membuang aspek-aspek kemanusiaan yang cenderung menjerumuskan.&nbsp;<br> <br> Itulah yang dimaksud oleh Rasulullah Saw ketika bersabda, "Puasa menjadi berkah bagi kalian, karena ia memutuskan akar nafsu dan membuang sifat-sifat buas hewan dari diri kalian". (Kanz al-Ummal, hadis no. 23610)<br> <span></span><br> <span></span>Jadi, berpuasa sejatinya adalah ikhtiar untuk membuang sifat-sifat hewan dan segala perbuatan yang didorong oleh hawa nafsu. Puasa membimbing manusia untuk menemukan hakikat dirinya. Sehingga mereka yang berpuasa tetapi tidak bisa melepaskan&nbsp;karakteristik hewannya, sesungguhnya dia belum berpuasa.&nbsp;<br> <br> Selanjutnya, setelah mengosongkan diri dari sifat-sifat buruk dan noda, kekosongan itu kemudian diisi dengan perbuatan baik. Pada tahap inilah orang berpuasa akan memasuki maqam&nbsp;<em>tahalli</em>, mereka menghiasi puasanya dengan kemuliaan amal saleh yang dicontohkan oleh Rasulullah. Mereka mengisi malam dengan ibadah dan munajat. Dan jika mereka telah melewati fase kedua ini, maka Insya Allah hakikat puasa akan disingkapkan kepadanya. Itulah fase&nbsp;<em>tajalli</em> dimana sifat dan perbuatan mereka yang berpuasa merupakan manifestasi dari sifat dan perbuatan Allah, mereka telah menjadi <em>khalifah</em>. Oleh karena itu, orang yang benar-benar berpuasa di bulan ramadhan akan menjadi <em>rahmatan lil &lsquo;alamin</em> saat mereka mampu mengejawantahkan cinta dan kasih Allah Swt. Itulah sifat-sifat&nbsp;orang bertaqwa yang dimaksudkan oleh Alquran.&nbsp;&nbsp;<br> <br> <span></span> Syari&rsquo;at, tarikat dan hakikat puasa adalah tiga hal yang berkelindan satu sama lain. Sementara <em>takhalli</em>, <em>tahalli</em> dan <em>tajalli</em> adalah tiga <em>maqam</em> yang saling sambung menyambung. Sejatinya, orang yang berpuasa tidak akan mau berhenti di puasa syari&rsquo;at saja karena mereka ingin mereguk hakikatnya. Dan ciri dari&nbsp; orang yang telah merasakan hakikat puasa adalah mereka yang menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.<br> <span></span><br> 5 Ramadhan 1428H. </div>  <div> <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> <hr class="styled-hr" style="width:100%;">  <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> </div>  <div> <div id="573978878290748858" align="left" style="width: 100%; overflow-y: hidden;" class="wcustomhtml"> <div align='center'> <a href='http://www.hit-counter-html-code.com'><img src='http://www.hit-counter-html-code.com/c.php?d=6&amp;id=140470&amp;s=18' border='0' title='free website hit counter'></a><br> <small><a href='http://www.hit-counter-html-code.com' title="hit counter html code">Hit Counter</a></small> </div> </div> </div> ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Puasa Menyempurnakan Wujud Manusia]]></title><link><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/puasa-menyempurnakan-wujud-manusia]]></link><comments><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/puasa-menyempurnakan-wujud-manusia#comments]]></comments><pubDate>Sun, 29 Jun 2014 10:28:31 GMT</pubDate><category><![CDATA[Puasa]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/puasa-menyempurnakan-wujud-manusia</guid><description><![CDATA[   Kita sangat akrab dengan defenisi puasa yang paling sederhana: menahan makan, minum, hubungan suami istri, dan segala yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Bahkan, kadang kita mengurangi defenisinya lagi menjadi hanya “menahan makan dan minum saja.” Adapun pengertian dari “segala yang membatalkannya,” kita tidak terlalu perduli. Lalu kita melakukan apa saja di siang hari seperti biasa, bedanya hanyalah bahwa kita sedang puasa. Puasa disederhanakan hanya begit [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<span class='imgPusher' style='float:left;height:0px'></span><span style='z-index:10;position:relative;float:left;max-width:100%;;clear:left;margin-top:0px;*margin-top:0px'><a><img src="https://www.mustamin-almandary.net/uploads/3/1/3/2/31324883/148881976.jpg?285.7289719626168" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; border-width:1px;padding:3px;" alt="Picture" class="galleryImageBorder wsite-image"></a><span style="display: block; font-size: 90%; margin-top: -10px; margin-bottom: 10px; text-align: center;" class="wsite-caption"></span></span>  <div class="paragraph" style="display:block;"> Kita sangat akrab dengan defenisi puasa yang paling sederhana: menahan makan, minum, hubungan suami istri, dan segala yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Bahkan, kadang kita mengurangi defenisinya lagi menjadi hanya &ldquo;menahan makan dan minum saja.&rdquo; Adapun pengertian dari &ldquo;segala yang membatalkannya,&rdquo; kita tidak terlalu perduli. Lalu kita melakukan apa saja di siang hari seperti biasa, bedanya hanyalah bahwa kita sedang puasa. Puasa disederhanakan hanya begitu saja. </div> <hr style="width:100%;clear:both;visibility:hidden;">  <div> <!--BLOG_SUMMARY_END--> </div>  <div class="paragraph" style="text-align:justify;"> Mulla Shadra, seorang teosof Islam abad 16, membagi wujud manusia berdasarkan tingkatan alam dari yang paling bawah sampai yang paling sempurna: indrawi (<em>al-hiss</em>), imajinasi (<em>al-khayal</em>), dan akal (<em>al-&lsquo;aql</em>). Sederhananya begini, manusia yang memiliki aspek lahir dan batin itu berada di tiga alam, mirip dengan rumah yang berlantai tiga, yang paling bawah adalah alam indra dan yang tertinggi adalah alam akal. Manusia akan semakin sempurna wujudnya, atau semakin sempurna kualitas kemanusiaannya jika dia bisa mendaki dari bawah di alam indra sampai ke tingkat tertinggi di alam akal. Dan manusia yang bisa masuk surga dan &ldquo;bertemu&rdquo; Tuhan adalah manusia yang berada di tingkat tertinggi itu.<br> <span></span><br> <span></span> Apa hubungannya dengan puasa? Manusia seperti kita, yang memiliki kecenderungan terhadap materi, paling gampang diidentifikasi melalui makanan, minuman, dan semua kebutuhan jasad kita, berada di alam paling bawah itu. Selama kita tidak bisa &ldquo;terlepas&rdquo; (<em>tajarrud</em>) dari materi, maka selama itu juga kita masih akan berada di tingkat bawah dan tidak akan bisa menyempurnakan wujud kemanusiaan kita. Tanpa sadar, kita hanya berputar-putar di lantai paling bawah. Dengan kondisi itu, wujud kita tidak akan pernah menyempurna dan tak akan bisa &ldquo;bertemu&rdquo; dengan Sang Maha Sempurna yang &ldquo;berada&rdquo; di alam tertinggi. Karena itulah &ldquo;keterlepasan&rdquo; dari materi hakikinya adalah kerinduan fitrawi manusia.<br> <span></span><br> <span></span> Karena itulah puasa disyariatkan, bukan hanya untuk orang Islam, &ldquo;tetapi juga orang-orang sebelum kamu&rdquo; kata Alquran. Puasa dimaksudkan sebagai latihan untuk melepaskan diri dari belenggu materi. Menurut Seyyed Hossein Nasr, perjuangan yang paling berat bagi seseorang yang berpuasa adalah menundukkan <em>the carnal soul</em>, <em>al-nafs al-ammarah</em>, jiwa hewan yang menjadi ciri khas alam materi. <em>Nafs al-ammarah</em>-lah yang menjerumuskan manusia, yang menjadikannya seperti hewan dan menggodanya untuk melakukan apa saja yang akan mengantarkannya ke tempat terendah, <em>asfala saafiliin</em>.<br> <span></span><br> <span></span> Menggunakan defenisi Mulla Shadra, manusia yang berpuasa adalah manusia yang sedang berupaya menyempurnakan wujud lahir dan batinnya untuk mencapai tempat atau <em>maqam</em> tertinggi. Puasa dalam pengertian inilah yang disebut puasa yang sebenar-benarnya, latihan melepaskan diri dari materi. Belajar tetapi tidak disiplin tidak akan mencerdaskan, dan puasa yang juga tidak disiplin tidak akan menghasilkan apa-apa. Karena itulah Rasulullah pernah mengatakan banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Jika puasa yang kita lakukan hanya memindahkan jadwal makan tanpa mengurangi kuantitas, bahkan menambah kuantitas dan kualitasnya di saat berbuka dan makan sahur, itu berarti keterikatan kita kepada materi masih berada pada level yang sama, bahkan mungkin malah lebih buruk. Dan tentu, kita tidak bisa berharap dari puasa yang seperti ini.<br> <span></span><br> <span></span> Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga puasa kita adalah benar-benar puasa.<br> <span></span><br> <span></span> Ya Allah, berikan kami kekuatan untuk melakukan puasa yang menyempurnakan wujud kami, dan puasa yang mendekatkan kami kepadaMu.<br> <span></span><br> <strong>Mustamin al-Mandary</strong>, 1 Ramadhan 1428H. Dulu ditulis untuk "kultum" di mailing list Panyingkul. Didaur ulang untuk Ramadhan 1435H.<br> <span></span><br> <span></span> </div>  <div> <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> <hr class="styled-hr" style="width:100%;">  <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> </div>  <div> <div id="848794046131105614" align="left" style="width: 100%; overflow-y: hidden;" class="wcustomhtml"> <div align='center'> <a href='http://www.hit-counter-html-code.com'><img src='http://www.hit-counter-html-code.com/c.php?d=6&amp;id=139967&amp;s=10' border='0' title='free website hit counter'></a><br> <small><a href='http://www.hit-counter-html-code.com' title="hit counter html code">Hit Counter</a></small> </div> </div> </div> ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Khutbah Rasulullah Saw Menyambut Ramadhan]]></title><link><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/khutbah-rasulullah-saw-menyambut-ramadhan]]></link><comments><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/khutbah-rasulullah-saw-menyambut-ramadhan#comments]]></comments><pubDate>Fri, 27 Jun 2014 07:08:30 GMT</pubDate><category><![CDATA[Hadis]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/khutbah-rasulullah-saw-menyambut-ramadhan</guid><description><![CDATA[   Ramadhan sebentar lagi, mari persiapkan diri. Untuk itu, kita renungi kembali pesan Rasulullah Saw dalam menyambut bulan suci ini.&nbsp;Syeikh Shaduq ra meriwayatkan dari Imam Ridha dengan sanad terpercaya, dari kakek-kakek beliau, bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw berkata, Rasulullah SAW pada suatu hari berkhotbah di hadapan kami (menjelang bulan suci Ramadhan):         “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan ampunan; bulan [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<span class='imgPusher' style='float:left;height:0px'></span><span style='z-index:10;position:relative;float:left;max-width:100%;;clear:left;margin-top:0px;*margin-top:0px'><a><img src="https://www.mustamin-almandary.net/uploads/3/1/3/2/31324883/273834480.jpg" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; border-width:1px;padding:3px;" alt="Picture" class="galleryImageBorder wsite-image"></a><span style="display: block; font-size: 90%; margin-top: -10px; margin-bottom: 10px; text-align: center;" class="wsite-caption"></span></span>  <div class="paragraph" style="display:block;"> Ramadhan sebentar lagi, mari persiapkan diri. Untuk itu, kita renungi kembali pesan Rasulullah Saw dalam menyambut bulan suci ini.&nbsp;Syeikh Shaduq ra meriwayatkan dari Imam Ridha dengan sanad terpercaya, dari kakek-kakek beliau, bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw berkata, Rasulullah SAW pada suatu hari berkhotbah di hadapan kami (menjelang bulan suci Ramadhan):<br> </div> <hr style="width:100%;clear:both;visibility:hidden;">  <div> <!--BLOG_SUMMARY_END--> </div>  <div class="paragraph"> &ldquo;Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan ampunan; bulan yang paling utama di sisi Allah; hari-harinya&nbsp;adalah hari-hari yang termulia, malam-malamnya adalah malam-malam yang terbaik, dan waktu-waktunya adalah saat-saat yang paling utama; adalah bulan yang kalian diundang didalamnya untuk menghadiri jamuan Allah dan kalian telah dijadikan didalamnya sebagai orang-orang yang berhak mendapatkan kemulyaan-Nya.<br> <span></span><br> <span></span>"Nafas-nafas kalian di dalamnya adalah tasbih, tidur kalian adalah ibadah, setiap amalan kalian diterima, dan doa kalian dikabulkan. Maka, memohonlah kepada Allah Tuhan kalian, dengan niat yang tulus dan hati yang bersih, agar Dia memberikan jalan mudah kepada kalian guna menjalankan puasa dan membaca Al-Quran-Nya; karena sesungguhnya orang yang celaka pada bulan yang agung ini adalah orang yang terhalang dari ampunan Allah; ingatlah dengan rasa lapar dan dahaga kalian pada bulan ini pada rasa lapar dan dahaga di hari Kiamat; bersedekahlah kepada orang-orang fakir dan miskin dari kalian, hormatilah orang-orang yang lebih tua dari kalian, sayangilah anak-anak kecil kalian, sambunglah silaturrahmi kalian, jagalah lidah kalian, jagalah pandangan kalian dari apa yang terlarang, jagalah pendengaran kalian dari yang tidak diperbolehkan, berbelas-kasihlah kepada anak-anak yatim agar Allah berbelas-kasih kepada anak-anak yatim kalian.<br> <span></span><br> <span></span>"Bertaubatlah kepada-Nya dari dosa-dosa, angkatlah kedua tangan kalian untuk berdoa di waktu-waktu shalat; karena pada saat-saat itu adalah waktu yang paling utama; Allah akan melihat para hamba-Nya pada waktu itu dengan kasih sayang, menjawab mereka jika bermunajat kepada-Nya, memenuhi (panggilan) mereka jika memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka jika memohon-Nya.<br> <br> "Wahai manusia, sesungguhnya diri kalian tergadaikan oleh amal perbuatan kalian, maka bebaskanlah ia dengan istighfar; dan pundak kalian terbebani oleh dosa-dosa kalian, maka ringankanlah dosa-dosa itu dengan panjangnya sujud. Dan ketahuilah bahwa Allah menyebut dirinya telah bersumpah demi kemuliaan-Nya untuk tidak menyiksa orang-orang yang melakukan shalat dan bersujud, dan tidak menakut-nakuti mereka dengan api neraka ketika semua manusia bangkit menghadap Tuhan semesta alam.<br> <br> "Wahai manusia, barangsiapa memberikan makanan untuk berbuka puasa kepada seorang mukmin yang sedang berpuasa pada bulan ini, maka pahala perbuatannya adalah pahala pembebasan budak dan (mendapat) pengampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu."<br> <br> Salah seorang sahabat bertanya, &ldquo;Ya Rasulullah, tidak semua dari kami yang mampu untuk melakukan hal itu!&rdquo;<br> <br> Beliau menjawab,&nbsp;&ldquo;Cegahlah api neraka (dari diri kalian) walaupun dengan sekerat kurma dan meskipun dengan seteguk air. Karena Allah SWT akan menganugrahkan pahala tersebut bagi orang yang melakukan amalan yang mudah ini jika tidak mampu lebih banyak dari itu.<br> <br> Wahai manusia, barangsiapa memperbaiki akhlaknya pada bulan ini, maka ia akan dapat melintas Shirat (jembatan akhirat) ketika semua kaki pada saat itu terpeleset; barangsiapa memperingan beban hamba sahayanya (baca: pembantunya) pada bulan ini, maka Allah akan memperingan perhitungan (amal)nya.<br> <span></span><br> <span></span>Barangsiapa mencegah keburukannya (terhadap orang lain) di dalam bulan ini, maka Allah akan mencegah kemurkaan-Nya kepadanya ketika ia bertemu dengan-Nya; barangsiapa memulyakan anak yatim pada bulan ini, maka Allah akan memulyakannya ketika ia berjumpa dengan-Nya; barangsiapa menyambung tali silaturahmi pada bulan ini, maka Allah akan mengucurkan rahmat-Nya kepadanya ketika ia berjumpa dengan-Nya; barangsiapa memutuskan tali silaturahminya pada bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya ketika ia bertemu dengan-Nya.<br> <span></span><br> <span></span>Barangsiapa malakukan shalat sunnah pada bulan ini, maka Allah akan menetapkan ia bebas dari api neraka; barangsiapa mengerjakan sebuah kewajiban pada bulan ini, niscaya ia akan mendapatkan pahala orang yang melaksanakan tujuh puluh kewajiban di bulan lain; barangsiapa memperbanyak shalawat atasku pada bulan ini, maka Allah akan memperberat timbangannya ketika semua timbangan meringan; barangsiapa membaca satu ayat al-Quran pada bulan ini, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengkhatamkan al-Quran di bulan selainnya.<br> <br> Wahai manusia, sesungguhnya pada bulan ini pintu-pintu surga terbuka, Maka memohonlah kepada Tuhan kalian agar tidak menutupnya bagi kalian, pintu-pintu neraka tertutup, maka mintalah kepada Tuhan kalian agar tidak membukanya atas kalian, dan tangan-tangan para setan terbelenggu, maka mohonlah kepada Tuhan kalian sehingga mereka tidak dapat menguasai kalian...&rdquo;<br> <br> Sumber: Abbas Al-Qummi, Mafatihul Jinan, Majma&rsquo; Al-Ilmi Ahlil Bait 2011M/1432H. Cet. Ke-7, hal. 173.<br> <span></span> </div>  <div> <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> <hr class="styled-hr" style="width:100%;">  <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> </div>  <div> <div id="963678169225977744" align="left" style="width: 100%; overflow-y: hidden;" class="wcustomhtml"> <div align='center'> <a href='http://www.hit-counter-html-code.com'><img src='http://www.hit-counter-html-code.com/c.php?d=9&amp;id=139859&amp;s=10' border='0' title='free website hit counter'></a><br> <small><a href='http://www.hit-counter-html-code.com' title="hit counter html code">Hit Counter</a></small> </div> </div> </div> ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Siapakah Yang Paling Menakjubkan Imannya?]]></title><link><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/siapakah-yang-paling-menakjubkan-imannya]]></link><comments><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/siapakah-yang-paling-menakjubkan-imannya#comments]]></comments><pubDate>Fri, 27 Jun 2014 03:07:27 GMT</pubDate><category><![CDATA[Kritik]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/siapakah-yang-paling-menakjubkan-imannya</guid><description><![CDATA[   Ramadan menjelang. Saya titip kembali tulisan ini.  Saya ingat sekali, tahun 80-an ketika masih anak-anak, saya pernah protes kepada seorang ustadz yang berceramah di kampung. Saat itu, beliau mengajarkan bahwa umat Islam yang paling mulia disisi Allah adalah tiga generasi yang pertama; seberapa maksimalpun kita berbuat kebaikan, kita tidak ada apa-apanya.&nbsp;Mereka tidak bisa dilampaui.&nbsp;         Saya pikir, ini tidak adil! Bukankah kita, generasi yang belakang ini, punya potensi yang  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<span class='imgPusher' style='float:left;height:0px'></span><span style='z-index:10;position:relative;float:left;max-width:100%;;clear:left;margin-top:0px;*margin-top:0px'><a><img src="https://www.mustamin-almandary.net/uploads/3/1/3/2/31324883/211827669.jpg" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; border-width:1px;padding:3px;" alt="Picture" class="galleryImageBorder wsite-image"></a><span style="display: block; font-size: 90%; margin-top: -10px; margin-bottom: 10px; text-align: center;" class="wsite-caption"></span></span>  <div class="paragraph" style="display:block;"> Ramadan menjelang. Saya titip kembali tulisan ini.<br> <br> Saya ingat sekali, tahun 80-an ketika masih anak-anak, saya pernah protes kepada seorang ustadz yang berceramah di kampung. Saat itu, beliau mengajarkan bahwa umat Islam yang paling mulia disisi Allah adalah tiga generasi yang pertama; seberapa maksimalpun kita berbuat kebaikan, kita tidak ada apa-apanya.&nbsp;Mereka tidak bisa dilampaui.&nbsp; </div> <hr style="width:100%;clear:both;visibility:hidden;">  <div> <!--BLOG_SUMMARY_END--> </div>  <div class="paragraph" style="text-align:justify;"> Saya pikir, ini tidak adil! Bukankah kita, generasi yang belakang ini, punya potensi yang sama dengan mereka? Ustadz berkata, mereka adalah pembantu Nabi, yang mencontoh dan mengikuti Nabi dengan segala daya, mengorbankan apa saja miliknya demi Islam. Merekalah yang dimaksud oleh ayat Alquran sebagai radhiAllahu &lsquo;anhum wa radhu &lsquo;an (QS 5:119), Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Untuk sementara, saya menyerah saat itu. Saya tidak punya dalil untuk menjawab penjelasan ustadz walaupun hati saya menolak. Saya simpan saja &ldquo;kekalahan&rdquo; itu.<br> <br> Beberapa tahun kemudian, saat remaja, di atas mimbar, seorang penceramah kembali mengingatkan &ldquo;kekalahan&rdquo; saya dari ustadz dulu. Kata penceramah, para sahabat nabi itu orang-orang adil, tidak akan berbuat salah. Jikapun berbuat salah, kesalahan mereka langsung diampuni dan mereka masih mendapatkan satu kebaikan dalam kesalahannya. Sang penceramah lalu mengutip salah satu riwayat, bahwa Nabi pernah menyebutkan kemuliaan salah seorang sahabat dekatnya. Kata Nabi, jika semua kebaikan umat setelahnya diletakkan pada satu timbangan disisi kiri dan kebaikan salah seorang sahabatnya itu disisi kanan, niscaya kebaikan sahabatnya itu masih akan lebih berat.&nbsp;<br> <br> Saat ini, kita juga mengenal kelompok yang &ldquo;memaksa&rdquo; kita kembali ke tiga generasi itu, generasi salaf al-salih. Menurut mereka, merekalah tauladan sebenar-benarnya. Merekalah yang paling tahu ajaran Nabi. Merekalah yang paling benar. Ajaran Islam yang kita terima sekarang hanya bisa sampai kepada kita melalui perantaraan mereka. Selain pemahaman mereka, tidak ada tempat buat yang lain. Sayangnya, generasi salaf al-salih yang mereka maksud, adalah generasi yang mereka pilih pendapatnya. Jika ada tiga generasi pertama yang berbeda dengan salaf al-salih yang mereka maksud, maka kelompok ini diluar dari salaf al-salih.<br> <br> Tentu sangat jelas, tanpa generasi Nabi dan generasi setelahnya, Islam tidak mungkin sampai ke zaman ini. Itu kaidah sejarah yang tidak bisa ditolak. Mereka lebih dekat kepada Nabi. Jika memang ada distorsi, maka mereka beruntung menemukan distorsi yang masih sedikit. Kompleksitas kehidupan mereka, masih mirip dengan kehidupan zaman Nabi. Tetapi kita juga tidak bisa membantah, perbedaan yang kita miliki sekarang, juga berasal dari mereka. Khususnya generasi paska wafat Rasulullah, perbedaan di antara mereka memberikan kontribusi paling besar kepada perbedaan penafsiran ajaran Islam di zaman ini dan nanti.&nbsp;<br> <br> Saya bukan bermaksud menolak kebaikan para sahabat Rasulullah yang mulia itu. Saya juga bukan tidak memuliakan mereka. Saya menerima salaf al-salih sebagai satu jalur yang menghidupkan risalah Nabi. Sejarah menunjukkan, keberhasilan Rasulullah Saw dalam mengemban misi Islam tidak bisa dilepaskan dari dukungan dan bantuan para sahabatnya. Saya tidak menggugat ayat keridhaan Allah kepada mereka. Saya hanya ingin mempertanyakan keadaan kita, generasi pencinta dan pengikut Nabi yang lahir kemudian. Bisakah kita seperti mereka disisi Allah dan Rasulullah Saw?<br> <br> Tidak bisa dipungkiri, umat Islam yang lahir belakangan juga merelakan jiwa raganya demi ajaran Muhammad. Ragukah kita atas perjuangan kaum muslimin menegakkan kebenaran di seluruh belahan bumi? Iraq, Afghanistan, Palestina, Lebanon, Indonesia? Saya sendiri percaya, perjuangan mereka melawan penindasan dilandasi oleh ruh kecintaan kepada nilai luhur Islam yang diajarkan oleh Muhammad, apapun bungkusannya: nasionalisme, pembelaan ham, dan lainnya.&nbsp;<br> <br> Atau tidak percayakah kita kepada beberapa orang yang rela meninggalkan kenikmatan hidupnya dan pergi ke daerah-daerah terpencil untuk berdakwah? Mereka meninggalkan keluarga dan menafkahkan hartanya untuk membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan. Mereka melakukan semua ini atas nama Islam. Mereka berupaya maksimal untuk mencintai Muhammad dan menghidupkan risalah yang dibawanya.&nbsp;<br> <br> Masih banyak contoh selain itu. Di Alquran sendiri Tuhan tidak pernah memuliakan hambaNya karena zamannya, kapan dia dilahirkan. Tuhan justru menekankan, &ldquo;sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu&rdquo; (QS 49:13). Nabipun pernah menegaskan, bahwa orang Arab tidak lebih mulia daripada orang &lsquo;ajam, kemuliaan seseorang ditentukan oleh ketakwaannya.<br> <br> Mungkin ustadz, atau penceramah itu akan menjelaskan lagi, bahwa tiga generasi yang pertama itulah yang paling bertakwa. Tetapi dengan apa kita mengukur ketakwaan? Andai saya lahir di zaman Nabi, saya juga akan pergi berjihad bersamanya, akan membersihkan tempat tidurnya, mengambilkannya air untuk mandi, dan ingin menjadikan tubuh saya sebagai bentengnya di perang Uhud sehingga beliau tidak akan terluka ketika teman-temannya meninggalkannya. Tapi saya dilahirkan sekarang, waktu yang tidak bisa saya tentukan sendiri.&nbsp;<br> <br> Saya masih membawa pertanyaan ini kemana-mana. Dan suatu waktu kemudian saya menemukan penjelasannya. Inilah yang ingin saya rangkumkan.<br> <br> ***<br> <br> Jalaluddin al-Suyuthi adalah salah seorang mufassir Islam yang terkenal, penulis kitab tafsir al-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma&rsquo;tsur. Beliau dilahirkan di Mesir 1 Rajab 849H ini. Dalam menulis tafsir ini, beliau tidak menjelaskan ayat-ayat dengan penjelasannya sendiri sebagaimana yang kita sering jumpai di kebanyakan kitab tafsir. Di dalam menjelaskan ayat-ayat Alquran, al-Suyuthi menggunakan riwayat yang berkenaan dengan ayat-ayat tersebut. Itulah sebabnya, banyak orang menyebut tafsir ini sebagai tafsir bi al-riwayat.<br> <br> Ketika hendak menjelaskan surah Al-Baqarah ayat ketiga alladziina yu&rsquo;minuuna bil ghaib, al-Suyuthi mengutipkan riwayat berikut ini.<br> <br> Menjelang subuh di suatu malam, Rasulullah Saw hendak mengambil air wudhu. Beliau bertanya kepada para sahabat, &ldquo;adakah air untuk berwudhu?&rdquo;. Sayangnya, pada waktu itu tidak ada seorang sahabatpun yang mempunyai air. Yang ada hanya kantong air yang di bagian bawahnya masih tersisa tetes-tetes air. Dibawalah kantong air itu kepada Rasulullah Saw. Beliau lalu memasukkan tangannya ke dalam kantong itu. Ketika tangannya ditarik keluar, memancarlah air dari sela-sela jarinya dengan pancaran yang deras. Para sahabat kemudian datang untuk mengambil wudhu dengan air itu. Bahkan, salah seorang sahabat, &lsquo;Abdullah bin Mas&rsquo;ud, selain berwudhu, dia juga meminum air itu.<br> <br> Setelah shalat shubuh, Rasulullah duduk menghadap para sahabatnya. Memulai pembicaraan beliau bertanya, &ldquo;tahukah kalian siapa yang paling menakjubkan imannya?&rdquo;. Para sahabat menjawab, &ldquo;para malaikat ya Rasulullah.&rdquo; Rasulullah menjawab, &ldquo;bagaimana mungkin para malaikat tidak beriman sementara mereka adalah pelaksana perintah-perintah Allah. Para malaikatlah yang terus menerus melaksanakan perintah Allah untuk menunaikan amanahNya.&rdquo; Kemudian para sahabat berkata, &ldquo;jika begitu, para Nabi ya Rasulullah.&rdquo; Rasulullah berkata, &ldquo;bagaimana mungkin para nabi tidak beriman sementara mereka menerima wahyu langsung dari Allah.&rdquo; Para sahabat lalu berkata, &ldquo;jika demikian, kami para sahabatmu yang Rasulullah.&rdquo; &ldquo;Bagaimana mungkin kalian tidak beriman padahal kalian baru saja menyaksikan apa yang kalian sudah saksikan&rdquo; (maksudnya keajaiban air yang memancar dari jari-jari Rasulullah). Karena penasaran para sahabat lalu bertanya, &ldquo;kalau begitu, siapa yang paling menakjubkan imannya itu ya Rasulullah?&rdquo;. Rasulullah menjawab, &ldquo;mereka adalah kaum yang datang setelahku. Mereka tidak pernah berjumpa denganku. Mereka tidak pernah melihatku. Tetapi ketika mereka menemukan Alquran terbuka di hadapan mereka, mereka lalu mencintaiku. Mereka mencintaiku sedemikian besarnya sehingga sekiranya mereka harus mengorbankan seluruh hartanya agar bisa menemuiku, mereka akan merelakan seluruh hartanya itu.&rdquo;<br> <br> Demikian penjelasan al-Suyuthi tentang siapa yang beriman kepada yang gaib.&nbsp;<br> <br> Masih di dalam kitab al-Durr al-Mantsur, Imam al-Suyuthi mengutip riwayat dimana Rasulullah Saw mengatakan, &ldquo;berbahagialah ikhwani, saudara-saudaraku&rdquo;. Para sahabat bertanya, &ldquo;apakah kami yang engkau maksud ya Rasulullah?&rdquo; Rasulullah menjawab, &ldquo;bukan! Kalian adalah sahabat-sahabatku. Saudaraku adalah mereka yang datang setelahku&rdquo;.<br> <br> Suatu hari Rasulullah disebutkan pernah berkata, &ldquo;alangkah rindunya aku untuk berjumpa dengan ikhwani&rdquo;. Para sahabat menjawab, &ldquo;bukankah kami ini ikhwanuka?&rdquo;. &ldquo;Bukan!&rdquo; kata Rasulullah. &ldquo;Kalian ini adalah sahabat-sahabatku. Saudaraku adalah orang yang tidak pernah berjumpa denganku tetapi membenarkanku dan beriman kepadaku&rdquo;.&nbsp;<br> <br> ***<br> <br> Ternyata, Rasulullah Saw sudah menduga pertanyaan saya, lalu beliau menyediakan jawabannya. Untung saja ulama-ulama terdahulu mencatatkan jawaban itu sehingga kita bisa menemukannya sekarang.&nbsp;<br> <br> Saya membuka Tafsir Al-Misbah Quraisy Shihab jilid 1. Ketika menjelaskan ayat ketiga di surah Al-Baqarah, Ustadz Quraisy juga mengatakan bahwa secara bahasa dan makna, pendapat yang mengatakan bahwa hal-hal ghaib di ayat itu adalah termasuk Rasulullah bagi umat Islam yang tidak sempat bertemu dengannya, adalah pendapat yang bisa diterima. Walaupun demikian, Ustadz Quraisy mengatakan bahwa pendapat ini tidak masyhur.<br> <br> Saya tidak terlalu memikirkan pendapat al-Suyuthi yang mungkin menghubungkan QS al-Baqarah ayat tiga dengan riwayat di atas. Saya hanya ingin menelusuri dan memaknai riwayat yang dikutipnya. Riwayat itu menjawab kegundahan saya.&nbsp;<br> <br> Tentu, riwayat ini bukan menafikan kemuliaan tiga generasi Islam yang pertama. Riwayat ini justru memperkuat bahwa umat Muhammad mempunyai kesempatan yang sama menjadi yang terbaik. Kemuliaan umat Muhammad, dan juga umat-umat yang lain, seperti kata Allah, adalah ditentukan oleh ketakwaannya; bukan oleh zamannya, sukunya, wilayahnya, atau warna kulitnya. Bukankah ada sekelompok orang di zaman Nabi yang tidak memanfaatkan pertemuannya dengan Nabi? Bukankah pula ada ummat sekarang yang sedemikian kokohnya menjaga risalah Muhammad sehingga merelakan jiwa raganya?<br> <br> Semoga saja, kita yang membaca tulisan ini, adalah orang-orang yang dirindukan oleh Nabi.<br> <br> Balikpapan, 16 Agustus 2009; 20:30<br> <br> Catatan:<br> <span style="line-height: 1.5; background-color: initial;">Saya ternyata menulis catatan ini menjelang Ramadhan tahun 2009. Bisa ditemukan di <a href="https://www.facebook.com/notes/mustamin-al-mandary/siapakah-yang-paling-menakjubkan-imannya/113624839340">link ini</a> juga</span>. Saya menemukan kembali menjelang Ramadhan 2014 ini. </div>  <div> <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> <hr class="styled-hr" style="width:100%;">  <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> </div>  <div> <div id="673986263254118541" align="left" style="width: 100%; overflow-y: hidden;" class="wcustomhtml"> <div align='center'> <a href='http://www.hit-counter-html-code.com'><img src='http://www.hit-counter-html-code.com/c.php?d=7&amp;id=139843&amp;s=10' border='0' title='free website hit counter'></a><br> <small><a href='http://www.hit-counter-html-code.com' title="hit counter html code">Hit Counter</a></small> </div> </div> </div> ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Proporsionalitas: Fondasi Persatuan Islam ]]></title><link><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/proporsionalitas-fondasi-persatuan-islam]]></link><comments><![CDATA[https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/proporsionalitas-fondasi-persatuan-islam#comments]]></comments><pubDate>Wed, 25 Jun 2014 05:23:24 GMT</pubDate><category><![CDATA[Persatuan Islam]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.mustamin-almandary.net/hikmah/proporsionalitas-fondasi-persatuan-islam</guid><description><![CDATA[   Membaca tulisan saudara Ilham Kadir (IK), “Proporsional dalam Memuliakan Al-Husein” yang dimuat Tribun Timur Jumat 7 Desember 2012 yang lalu, hemat penulis, memberikan satu perspektif baru dalam pola hubungan mazhab-mazhab Islam. Tulisan ini tidak bermaksud menanggapi tulisan tersebut seperti posisi diametral. Tidak pula menjadi penyempurna, atau penerang. Tapi, meminjam dan memodifikasi istilah saudara IK sendiri, tulisan ini bermaksud “mengalihkan para pembaca ke hal-hal yang lebih ra [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<span class='imgPusher' style='float:left;height:0px'></span><span style='z-index:10;position:relative;float:left;max-width:100%;;clear:left;margin-top:0px;*margin-top:0px'><a><img src="https://www.mustamin-almandary.net/uploads/3/1/3/2/31324883/363457484.jpg" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; border-width:1px;padding:3px;" alt="Picture" class="galleryImageBorder wsite-image"></a><span style="display: block; font-size: 90%; margin-top: -10px; margin-bottom: 10px; text-align: center;" class="wsite-caption"></span></span>  <div class="paragraph" style="text-align:justify;display:block;"> Membaca tulisan saudara Ilham Kadir (IK), &ldquo;Proporsional dalam Memuliakan Al-Husein&rdquo; yang dimuat Tribun Timur Jumat 7 Desember 2012 yang lalu, hemat penulis, memberikan satu perspektif baru dalam pola hubungan mazhab-mazhab Islam. Tulisan ini tidak bermaksud menanggapi tulisan tersebut seperti posisi diametral. Tidak pula menjadi penyempurna, atau penerang. Tapi, meminjam dan memodifikasi istilah saudara IK sendiri, tulisan ini bermaksud &ldquo;mengalihkan para pembaca ke hal-hal yang lebih rasional dan lebih luhur&rdquo;. </div> <hr style="width:100%;clear:both;visibility:hidden;">  <div> <!--BLOG_SUMMARY_END--> </div>  <div class="paragraph" style="text-align:justify;"> Semula, ada yang memberikan usulan, agar tulisan saudara IK tersebut ditanggapi dengan menurunkan tulisan yang berjudul &ldquo;Proporsional dalam Memuliakan Sahabat Nabi&rdquo;. Ada pula yang mengusulkan agar dua sub judul tulisan saudara IK dibahas dengan memberikan jawaban yang benar menurut mazhab yang dikritiknya. Tidak! Tulisan seperti itu dengan mudah ditemukan di buku-buku dan tulisan-tulisan yang bersebaran di laman-laman maya. Sebagaimana yang dimaksudkan oleh Dr. Kamaruddin Amin, jika mau membahas sejarah Islam, kita tidak akan pernah menemukan titik temu jika hanya ingin berdiskusi saja. Tidak akan ada selesainya. Sejarah ditulis sesuai dengan tujuan penulisnya. Jika hanya mau mencari catatan sejarah Syiah yang menyakitkan hati kelompok Sunni, atau catatan sejarah Sunni yang menyakitkan perasaan kelompok Syiah, banyak sekali! Tetapi mengapa tidak mencari ulama di antara kedua kelompok yang berikhtiar lebih luhur untuk persatuan Islam? Mengapa tidak mengikuti ikhtiar tulus mereka demi kejayaan Islam yang menjadi cita-cita bersama untuk menegakkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta?<br> <span></span><br> <span></span> Karena itulah penulis menulis tanggapan ini. Ada dua catatan penting saudara IK yang ingin penulis &ldquo;lanjutkan&rdquo;.<br> <span></span><br> <span></span> Pertama, penulis ingin mengelaborasi pernyataan saudara IK bahwa &ldquo;<em>Peristiwa terbunuhnya al-Husein jika disikapi secara proporsinal, tidaklah melambangkan sebuah pertempuran antara hak dan batil secara mutlak. Bukankah yang dibunuh dan yang membunuh memiliki Syahadat, Nabi, Kitab, dan Kiblat yang sama? Pertempuran ini adalah pertempuran antarsesama Muslim</em>.&rdquo;<br> <span></span><br> <span></span> Sejujurnya, penulis tidak sepakat dengan kesimpulan ini. Terlalu disederhanakan dan terkesan didangkalkan. Kita tentu tidak bisa mentolelir pembunuhan terhadap seorang, apalagi sekelompok muslim. Apatah lagi yang dibunuh adalah cucu-cucu terkasih Nabi Saw. Dalam defenisi Sahabat Nabi yang masyhur dan umum, Imam Husain dan beberapa orang yang menyertainya di Karbala, juga adalah sahabat Nabi Saw. Tapi faktanya, mereka dibunuh. Para pembunuhnya bukan hanya membunuh itrah Nabi Saw, tapi mereka juga membunuh sahabat-sahabat Nabi Saw. Allah telah berfirman, &ldquo;<em>Dan barangsiapa yang</em> <em>membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya</em>&rdquo; (QS 4:93). Lihat, Allah memurkai pembunuh, mengutuk, mengganjar dengan neraka, dan menyiksanya dengan azab. Lalu kita bagaimana?<br> <span></span><br> <span></span> Tapi penulis ingin &ldquo;melupakan&rdquo; masalah ini untuk tujuan yang lebih luhur. Biarlah urusan para pembunuh itu adalah urusan mereka dengan Allah. Jika mereka bersyahadat seperti Imam Husain, syukurlah. Jika mereka juga mengaku mengikuti Nabi Saw, <em>Alhamdulillah</em>. Jika ternyata mereka berkiblat dan berkitab seperti Imam Husain yang dibunuhnya, ribuan pujian kepada Allah jika demikian adanya. Lalu apa yang harus kita lakukan?<br> <span></span><br> <span></span> Penulis ingin menegaskan, ada fondasi penting yang harus menjadi basis proporsionalitas menyikapi kaum muslimin lain yang berbeda (mazhab) dengan kita. Seperti yang didengung-dengungkan oleh ulama penggiat dan pencinta <em>taqrib bainal mazhahib</em> dan <em>ittihad</em> Islam, saudara IK menyebutkannya kembali. Seharusnya, ketika terdapat kelompok muslim lain yang berbeda pandangan dengan kita, tetapi mereka memiliki syahadat, Nabi, kiblat dan kitab yang sama dengan kita, maka seharusnya kita harus mampu menempatkan mereka pada posisi yang proporsional. Penulis sejujurnya masih kabur makna proporsional dalam defenisi saudara IK karena sangat bisa jadi pemaknaan kami berdua subjektif. Namun, penulis sangat mendukung sikap toleransi yang dibangun di atas fondasi tersebut di atas. Penulis berpendapat, hubungan Sunni dan Syiah sangat memungkinkan dibangun di atas fondasi ini. Bukankah Sunni dan Syiah punya Nabi, kitab, syahadat, dan kiblat yang sama?<br> <span></span><br> <span></span> Kedua, penulis ingin menukikkan lebih dalam agar lebih bermakna dalam kehidupan kaum muslimin saat ini, atas ungkapan saudara IK &ldquo;<em>adalah naif jika kita terus-menerus mengutuk pihak yang bersalah dan berlebih-lebihan dalam memuliakan pihak yang kita anggap benar. Sikap yang bijak adalah mendoakan mereka, seperti Ubaidillah bin Ziyad, Yazid bin Muawiyah dan segenap pasukannya yang telah berbuat zalim terhadap al-Husein karena mereka juga adalah bagian dari umat ini</em>&rdquo;.<br> <span></span><br> <span></span> Sekali lagi, penulis sejujurnya tidak terlalu setuju dengan ungkapan ini. Mungkin kalimatnya harus disusun ulang. Kata &ldquo;berlebih-lebihan&rdquo; sendiri bisa sangat subjektif. Tuhan sendiri mengutuk pembunuh. Tetapi lupakan ketidaksetujuan itu. Lupakan perbedaan pandangan untuk tujuan yang lebih mulia.<br> <span></span><br> <span></span> Jika sekiranya saudara IK bisa mengajak kaum muslimin untuk mendoakan para pembunuh Imam Husain as dan sahabat Nabi Saw yang menyertainya, penulis juga ingin mengajak untuk mendoakan seluruh kaum muslimin yang memiliki Nabi, syahadat, kitab dan kiblat yang sama dengan kita. Kaum muslimin yang tidak sepaham dengan kita, tentu bukan untuk dibenci, dicaci maki, diganggu ibadahnya, dirusak kehormatannya, dijarah hartanya, bahkan dibunuh jiwanya. <em>Naudzubillah</em>. Seharusnya, menurut saudara IK, dan ini yang penulis sangat setujui, kita doakan mereka. Jika mereka memang tersalah, seharusnya kita mendoakan mereka agar diberi petunjuk dan <em>maghfirah</em>. Dalam hubungan Sunni Syiah, hemat penulis, pendekatan ini lebih bijak. Mari kita saling mendoakan; saling menunjuki jalan kebenaran melalui dialog dengan santun, bukan dengan kekerasan. Bukankah Sunni dan Syiah adalah bagian dari umat ini?<br> <span></span><br> <span></span> Terakhir, penulis mengajak untuk bersama-sama menumbuhkan rasa kasih sayang di antara kaum muslimin. Dengan cara itulah kita bisa mendapatkan kekuatan. Dan kekuatan tidak akan pernah tegak di atas kebencian satu sama lain. Allah berpesan, &ldquo;&hellip;.. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu&hellip;..&rdquo; (QS Al-Baqarah:216).<br> <span></span><br> <span></span> Allah Yang Maha Tahu.<br> <br> Catatan:<br> Pernah dimuat di Harian Tribun Timur Desember 2012. Dimuat pula di <a href="http://makassar.tribunnews.com/2012/12/17/proporsionalitas-fondasi-persatuan-islam" target="_blank">link ini</a>. </div>  <div> <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> <hr class="styled-hr" style="width:100%;">  <div style="height: 20px; overflow: hidden; width: 100%;"></div> </div>  <div> <div id="675719266213740659" align="left" style="width: 100%; overflow-y: hidden;" class="wcustomhtml"> <div align='center'> <a href='http://www.hit-counter-html-code.com'><img src='http://www.hit-counter-html-code.com/c.php?d=5&amp;id=139691&amp;s=10' border='0' title='free website hit counter'></a><br> <small><a href='http://www.hit-counter-html-code.com' title="hit counter html code">Hit Counter</a></small> </div> </div> </div> ]]></content:encoded></item></channel></rss>